Jumat, 30 Januari 2009

HADIAH PALING BERHARGA ADALAH SENYUM

Terkadang hadiah yang paling berharga dan berkesan adalah senyum dan kata-kata yang baik lagi santun. Ketika Rasulullah mengajak para sahabatnya untuk saling memberikan hadiah, dengan tujuan untuk menghilangkan permusuhan atau kemarahan diantara mereka sehingga kemudian mendatangkan persahabatan dan kecintaan. Beliau bersabda: Saling berjabat-tanganlah kalian, maka akan hilang kedengkian, dan saling memberi hadiahlah kalian, maka kalian akan saling mencintai.

Sesungguhnya, manusia dengan tabiatnya, merasa bahagia ketika mendengar ada orang yang memujinya atau mengkhususkannya, ataupun menyanjungnya dengan sanjungan yang layak, atau bila ada orang yang menghormati dirinya. Maka dia akan merasa dianggap harga dirinya, dan akan bertambah rasa saling mencintai antar sesama.

Sesungguhnya hadiah, adalah satu dari sekian banyak sarana untuk menciptakan suasana yang bermakna pujian, sanjungan, dan penghormatan diantara sesama, sebab dengan itu keinginan untuk mengungkapkan perasaan-perasaan dari sesama kita bisa tercapai Misalnya dari ketetanggaan, kita memberikan hadiah dengan penuh senyum dan ucapan-ucapan yang santun akan menggenapkan maksud dan tujuan yang pada gilirannya akan menambah kedekatan hubungan kemanusiaan, dan semakin berkembang rasa cinta dan penghormatan.

Dan sesuai dengan apa yang dikemukakan psikolog, Sesungguhnya hadiah termasuk salah satu jenis solusi kejiwaan untuk mengobati kegersangan jiwa itu sendiri, dimana hadiah tersebut merupakan implementasi penghargaan, penghormatan, kekaguman kepada orang lain yang bermuara pada membahagiakan orang lain.

Kalau hadiah itu diberikan kepada orang yang paling dekat kepada kita, seperti seorang suami kepada isteri, ataupun sebaliknya, atau seorang anak atau puteri kepada kedua orang tuanya atau pun sebaliknya, atau seorang sahabat atau kawan jauh, maka itu semua sangat bernilai dihadapan orang yang menerima hadiah.

Sesungguhnya, nilai hadiah bukanlah pada nilai nominalnya, melainkan pada kedudukannya yang bisa memaknakan perasaan kemanusiaan. Yang demikian krena manusia butuh kepada bantuan kejiwaan secara terus-menerus, baik dari orang di sekelilingnya, ataupun kerabat, dalam berbagai jenis hadiahnya. Contohnya: ketika mengunjungi orang sakit disamping memang hal itu wajib, akan tetapi dengan memberikan hadiah, ... kata-kata yang memotivasinya adalah hadiah, ...surat-menyurat adalah hadiah, ... dan hadiah adalah bermacam-macam.

Sesungguhnya hadiah yang baik akan melanggengkan persahabatan, dan orang yang menerima hadiah pun menganggapnya sebagai sesuatuyang indah. Orang yang memberinya pun akan bahagia karena bisa memberikan sesuatu yang berharga kepada sahabatnya. Sesungguhnya hadiah merupakan solusi terhadap segala problematika persahabatan, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, dimana ia bisa menambah kuat ikatan kekerabatan, antara pemberi dan penerima hadiah.

Oleh karena itu, sudah semestinya, kita semuanya, yang besar maupun kecil untuk membiasakan diri untuk selalu berbuat baik kepada sesama. Kita memberinya hadiah, ataupun kenang-kenangan pada berbagai kesempatan yang ada dan kita tambahkan dengan dua hadiah lainnya, yaitu senyum yang ikhlas dan ucapan yang santun yang keduanya tidak perlu membeli.

 

MENGENAL IMAM AL- BUKHARI

Muhammad Ibnu Abi Hatim berkata, “Saya terilham/menghafal hadits ketika masih dalam asuhan belajar.” Lalu saya bertanya, “Umur berapakah anda pada waktu itu?” Beliau menjawab, “Sepuluh tahun atau kurang.” (Riwayat al-Farbari dari Muhammad Ibnu Abi Hatim, seorang juru tulis al-Imam al-Bukhari). 


Suatu ketika al-Imam al-Bukhari tiba di Baghdad. Kehadiran beliau didengar oleh para ahlul hadits negeri itu. Maka, berkumpullah mereka untuk menguji kehebatan hafalan beliau tentang hadits. 

Syahdan para ulama tersebut sengaja mengumpulkan seratus buah hadits. Susunan, urutan dan letak matan serta sanad seratus hadits tersebut sengaja dibolak-balik. Matan dari sebuah sanad diletakkan untuk sanad lain, sementara suatu sanad dari sebuah matan diletakkan untuk matan lain dan begitulah seterusnya. Seratus buah hadits itu dibagikan kepada sepuluh orang tim penguji, hingga masing-masing mendapat bagian sepuluh buah hadits. 

Maka tibalah ketetapan hari yang telah disepakati. Berbondong-bondonglah para ulama dan tim penguji itu, serta para ulama dari Khurasan dan negeri-negeri lain serta penduduk Baghdad menuju tempat yang telah ditentukan. 

Ketika suasana majlis telah menjadi tenang, salah seorang dari kesepuluh tim penguji mulai memberikan ujiannya. Beliau membacakan sebuah hadits yang telah dibolak-balik matan dan sanadnya kepada al-Imam al-Bukhari. Ketika ditanyakan kepada beliau, al Imam al-Bukhari menjawab, “Saya tidak kenal hadits itu.” Demikian seterusnya satu persatu dari kesepuluh hadits penguji pertama itu dibacakan, dan al-Imam al-Bukhari selalu menjawab, “Saya tidak kenal hadits itu.” 

Beberapa ulama yang hadir saling berpandangan seraya bergumam, “Orang ini berarti faham.” Akan tetapi ada di kalangan mereka yang tidak mengerti, hingga menyimpulkan bahwa al-Imam al-Bukhari terbatas pengetahuannya dan lemah hafalannya. 

Orang kedua maju. Beliau juga melontarkan sebuah hadits yang telah dibolak-balik sanad dan matannya, yang kemudian dijawab pula, “Saya tidak kenal hadits itu”. Begitulah, orang kedua ini pun membacakan sepuluh hadits yang menjadi bagiannya, dan seluruhnya dijawab beliau, “Saya tidak kenal hadist itu.” 
Begitulah selanjutnya orang ketiga, keempat, kelima hingga sampai orang kesepuluh, semuanya membawakan masing-masing sepuluh hadits yang telah dibolak-balik matan dan sanadnya. Dan al-Imam al-Bukhari memberikan jawaban tidak lebih daripada kata-kata, “Saya tidak kenal hadits itu.” 

Setelah semuanya selesai menguji, beliau kemudian menghadap orang pertama seraya berkata, “Hadits yang pertama anda katakan begini, padahal yang benar adalah begini, lalu hadits anda yang kedua anda katakan begini padahal yang benar seperti ini. Begitulah seterusnya hingga hadits kesepuluh disebutkan oleh beliau kesalahan letak sanad serta matannya, dan kemudian dibetulkannya kesalahan itu hingga semua sanad dan matannya menjadi benar kedudukannya. 

Demikian pula seterusnya yang dilakukan oleh al-Bukhari kepada para penguji berikutnya hingga sampai kepada penguji kesepuluh. Maka, orang-orang pun lantas mengakui serta menyatakan kehebatan hafalan serta kelebihan beliau. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani mengatakan, “Yang hebat bukanlah kemampuan al-Bukhari dalam mengembalikan kedudukan hadits-hadits yang salah, sebab beliau memang hafal, tetapi yang hebat justru hafalnya beliau terhadap kesalahan yang dilakukan oleh para penguji tersebut secara berurutan satu persatu hanya dengan sekali mendengar.” 

Siapakah al-Imam al-Bukhari 

Beliau adalah Abu Abdillah, bernama Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ja’fi. Kakek moyang Bardizbah (begitulah cara pengucapannya menurut Ibnu Hajar al-‘Asqalani) adalah orang asli Persia. Bardizbah, menurut penduduk Bukhara berarti petani. Sedangkan kakek buyutnya, al-Mughirah bin Bardizbah, masuk Islaam di tangan al-Yaman al-Ja’fi ketika beliau datang di Bukhara. Selanjutnya nama al-Mughirah dinisbatkan (disandarkan) kepada al-Ja’fi sebagai tanda wala’ kepadanya, yakni dalam rangka mempraktekkan pendapat yang mengatakan, bahwa seseorang yang masuk Islam, maka wala’nya kepada orang yang mengislamkannya. 

Adapun mengenai kakeknya, Ibrahim bin al-Mughirah, Ibnu Hajar al-‘Asqalani mengatakan, “Kami tidak mengetahui (menemukan) sedikit pun tentang kabar beritanya.” Sedangkan tentang ayahnya, Ismail bin Ibrahim, Ibnu Hibban telah menuliskan tarjamah (biografi)-nya dalam kitabnya ats-Tsiqat (orang-orang yang tsiqah/terpercaya) dan beliau mengatakan, “Ismail bin Ibrahim, ayahnya al-Bukhari, mengambil riwayat (hadits) dari Hammad bin Zaid dan Malik. Dan riwayat Ismail diambil oleh ulama-ulama Irak.” Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani juga telah menyebutkan riwayat hidup ismail ini di dalam Tahdzibut Tahdzib. Ismail bin Ibrahim wafat ketika Muhammad (al-Bukhari) masih kecil. 

Kelahiran Dan Wafatnya 

Dilahirkan di Bukhara, sesudah shalat Jum’at pada tanggal 13 Syawal 194 H. Beliau dibesarkan dalam suasana rumah tangga yang ilmiah, tenang, suci dan bersih dari barang-barang haram. Ayahnya, Ismail bin Ibrahim, ketika wafat seperti yang diceritakan oleh Muhammad bin Abi Hatim, juru tulis al-Bukhari, bahwa aku pernah mendengar Muhammad bin Kharasy mengatakan, “Aku mendengar bahwa Ahid Hafs berkata, “Aku masuk menjenguk Ismail, bapaknya Abu Abdillah (al-Bukhari) ketika beliau menjelang wafat, beliau berkata, “Aku tidak mengenal dari hartaku barang satu dirham pun yang haram dan tidak pula satu dirham pun yang sybhat.” 

Al-Bukhari wafat di Khartank sebuah desa di negeri Samarkhand, malam Sabtu sesudah shalat Isya’, bertepatan dengan malam Iedul fitri, tahun 256 H dan dikuburkan pada hari Iedul Fitri sesudah shalat Zhuhur. Beliau wafat dalam usia 62 tahun kurang 13 hari dengan meninggalkan ilmu yang bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah. 

Pertumbuhan Dan Perkembangannya 

Ketika ayahnya wafat, beliau masih kecil, sehingga beliau besar dan dibesarkan dalam asuhan ibunya. Beliau mencari ilmu ketika masih kecil dan pernah menceritakan tentang dirinya seperti disebutkan oleh al-Farbari dari Muhammad bin Abi Hatim. Muhammad bin Abi Hatim berkata, “Aku pernah mendengar al-Bukhari mengatakan, “Aku diilhami untuk menghafal hadits ketika masih dalam asuhan mencari ilmu.” Lalu aku bertanya, “Berapa umur anda pada waktu itu?” Beliau menjawab, “Sepuluh tahun atau kurang… dan seterusnya hingga perkataan beliau, “Ketika aku menginjak umur enam belas tahun, aku telah hafal kitab-kitab karya Ibnul Mubarak dan Wakil. Dan aku pun tahu pernyataan mereka tentang Ash-hab (Ahlu) ra’yu”. Beliau berkata lagi, “Kemudian aku berangkat haji bersama ibuku dan saudaraku, setelah menginjak usia delapan belas tahun, aku telah menyusun kitab tentang sahabat dan tabi’in. Kemudian menyusun kitab tarikh di Madinah di samping kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika malam terang bulan.” Beliau melanjutkan perkataannya, “Dan setiap kali ada nama dalam at-Tarikh tersebut, pasti aku mempunyai kisah tersendiri tentangnya, tetapi aku tidak menyukai jika kitabku terlalu panjang.” 

Semenjak kecil beliau sibuk menggali ilmu dan mendengarkan hadits dari berbagai negeri, seperti di negerinya sendiri. Dan beliau telah beberapa kali mengunjungi Baghdad, hingga penduduk di sana mengakui kelebihannya dan penguasaannya terhadap ilmu riwayah dan dirayah. 

Begitulah, singkatnya beliau telah mengunjungi berbagai kota di Irak dalam rangka mencari ilmu hadits dari tokoh-tokoh negeri tersebut, misalnya Bashrah, Balkh, Kufah dan lain-lain. Beliau telah mendengarkan dan menggali hadits dari sejumlah banyak tokoh pembawa hadits. Diriwayatkan oleh Muhammad bin Abi Hatim, bahwasanya beliau berkata, “Aku tidak pernah menulis melainkan dari orang-orang yang mengatakan bahwa al-Iman adalah ucapan dan tindakan.” 

Jumlah Hadits Yang Dihafal 

Muhammad bin Hamdawaih mengatakan, “Aku mendengar al-Bukhari berkata, bahwa aku hafal seratus ribu hadits shahih dan dua ratus ribu hadits tidak shahih.” 

Kitab-Kitab Yang Disusun 

Yang paling pokok adalah kitab al-Jamiush shahih (Shahihul Bukhari) yaitu kitab hadits tershahih diantara kitab hadits lainnya. Selain itu beliau menyusun juga ktiab al-Adabul Mufrad, Raf’ul Yadain fish Shalah, al-Qira’ah khalfal Iman, Birrul Walidain, at-Tarikh ash-Shagir, Khalqu Af’aalil ‘Ibaad, adl-Dlu’afa (hadits-hadits lemah), al-Jaami’ al-Kabir, al-Musnad al-Kabir, at-Tafsir al-Kabir, Kitabul Asyribah, Kitabul Hibab, Asaami ash-Shahabah (Nama-nama para shahabat) dan lain sebagainya. 

Contoh Kekaguman Orang Terhadap Al-Bukhari 

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah, merupakan barometer bagi guru-gurunya dan manusia yang tahu dan hidup pada zamannya maupun sesudahnya. al-Imam al-Hafizh adz-Dzahabi dan al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani telah menyebutkan secara khusus tentang pujian dan jasa-jasa beliau dalam kitabnya masing-masing. Adz-Dzahabi dalam Tadzkiratul huffaazh dan Ibnu Hajar dalam Tahdzibut Tahdzib

Berikut ini beberapa contoh pujian dan kekaguman mereka. Muhammad bin Abi Hatim mengatakan, bahwa aku mendengar Yahya bin Ja’far al-Baikundi berkata, “Seandainya aku mampu menambahkan umur Muhammad bin Ismail (al-Bukhari) dengan umurku, niscaya aku lakukan sebab kematianku hanyalah kematian seorang sedangkan kematiannya berarti lenyapnya ilmu.” 

Raja’ bin Raja’ mengatakan, “Dia, yakni al-Bukhari, merupakan satu ayat di antara ayat-ayat Allah yang berjalan di atas permukaan bumi.” 

Abu Abdullah al-Hakim dalam Tarikh Naisabur berkata, “Dia adalah Imam Ahlul hadits, tidak ada seorang pun di antara Ahlul Naql yang mengingkarinya.” 

Shahihul Jami’ Atau Shahih Bukhari 

Seluruh hadits yang termuat di dalamnya adalah hadits-hadits shahih yang telah tetap dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan semua Mu’allaqaat dalam Shahih al-Bukhari dinyatakan shahih oleh para ulama Ahlul hadits. Adapun contoh pernyataan ulama tentang Shahih al-Bukhari seperti dikatakan al-Hafizh Ibnu Katsir dalam al-Bidaayah wan Nihaayah, “Para ulama telah bersepakat menerimanya (yakni Shahihul Bukhari) dan menerima keshahihan apa-apa yang ada di dalamnya, demikian pula seluruh ahlul Islam.” 

Jadi di samping Shahih Muslim, Shahih al-Bukhari adalah kitab tershahih nomor dua setelah al-Qur’an sebagaimana disebutkan dan disepakati oleh para ulama, di antaranya oleh as-Subakti. 

Terusirnya Imam Al-Bukhari Dari Bukhara 

Ghonjar mengatakan dalam kitab Tarikhnya, “Aku mendengar Ahmad bin Muhammad bin Umar berkata, “Aku mendengar Bakar bin Munir mengatakan, “Amir Khalid bin Ahmad Adz-Dzuhail, amir penguasa Bukhara, mengirim utusan kepada Muhammad bin Ismail, yang isinya, “Bawalah padaku kitab Jaami’ush Shahih dan at-Tarikh supaya aku bisa mendengar dari kamu.” Maka, berkatalah al-Bukhari kepada utusan tersebut, “Katakanlah kepadanya bahwa sesungguhnya aku tidak akan merendahkan ilmu dan aku tidak akan membawa ilmuku itu ke hadapan pintu para sultan. Apabila dia butuh (jika ilmu itu dikehendaki), maka hendaknya dia datang kepadaku di masjidku atau di rumahku. Kalau hal ini tidak menyenangkan wahai sultan, maka laranglah aku untuk mengadakan majlis ilmu, supaya pada hari kiamat aku punya alasan di hadapan Allah bahwa aku tidak menyembunyikan ilmu.” Ghonjar mengatakan, “Inilah yang menyebabkan terjadinya krisis di antara keduanya.” 

Al-Hakim berkata, “Aku mendengar Muhammad bin al-‘Abbas adh-Dhobby mengatakan, “Aku mendengar Abu Bakar bin Abu Amr berkata, “Perginya Abu Abdillah al-Bukhari dari negeri Bukhara disebabkan Khalid bin Ahmad Khalifah bin Thahir meminta beliau untuk hadir di rumahnya supaya membacakan kitab at-Tarikh dan al-Jaami’ush Shahih kepada anak-anaknya, tapi beliau menolak. Beliau katakan, “Aku tidak mempunyai waktu jika hanya orang-orang khusus yang mendengarkannya (mendengarkan ilmuku, pen). Maka Khalid bin Ahmad meminta tolong kepada Harits bin Abi al-Warqa` dan lainnya dari penduduk Bukhara untuk bicara mempermasalahkan madzhabnya. Akhirnya Khalid bin Ahmad mengusir beliau dari Bukhara. 

Demikianlah sekelumit tentang Imam Bukhari, beliau juga pernah difitnah sebagai orang yang mengatakan, bahwa bacaanku terhadap al-Qur’an adalah makhluk. Padahal beliau tidak mengatakan demikian dan bahkan secara tegas beliau membantah bahwa orang yang membawa berita tersebut adalah pendusta. Beliau bahkan mengatakan, “Bahwa al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk, sedangkan perbuatan-perbuatan hamba adalah makhluk.” (lihat Hadyu as-Sari Muqadimah Fathul Bari bagian akhir halaman 490-491). Wallahu a’lam.

 

TAFSIR AL QUR'AN SURAT AN-NAAS

 

إِنَّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً. وَبَعْدُ:                                     

سُوْرَةُ النَّاسِ

SURAT AN-NĀS

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb manusia

1

مَلِكِ النَّاسِ

Raja manusia

2

إِلَهِ النَّاسِ

Sembahan manusia

3

مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ

dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi

4

الَّذِي يُوَسْوِسُ فيِ صُدُورِ النَّاسِ

yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia

5

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

dari jin dan manusia

6

?   Kosa-kata:

Aku berlindung (memohon perlindungan)

:

أَلْجَأُ، أَسْتَجِيْرُ، أَعْتَصِمُ، أَلُوْذُ

:

أَعُوذُ

Raja yang memegang kekuasan tertinggi terhadap manusia dan yang mengatur me-reka, yaitu Alloh I

:

اَلْمَلِكُ الَّذِيْ لَهُ السُّلْطَةُ الْعُلْيَا فِي النَّاسِ، وَالْمُتَصَرِّفُ الْكَامِلُ هُوَ اللهُ  I

:

رَبِّ النَّاسِ

Sesembahan yang hanya kepadanya-Nya peribadatan diberikan, tidak diperuntukan kepada selain-Nya

:

مَعْبُوْدٌ (اَلَّذِيْ لَهُ الْعِبَادَةُ الْحَقَّةُ دُوْنَ مَا سِوَاهُ)

:

إِلَهِ

Yaitu setan terlaknat yang menghembuskan pikiran-pikiran jahat (jelek) ke hati umat manusia. Waswas adalah pembicaraan halus atau rahasia yang disampaikan ke telinga (bisikan)

:

اَلْوَسْوَاسُ هُوَ الشَّيْطَانُ الرَّجِيْمُ الَّذِيْ يُلْقِيْ فِيْ نُفُوْسِ النَّاسِ الأَفْكَارَ السٍّيِّئَةَ. وَالْوَسْوَسَةُ هِيَ الْحَدِيْثُ الْخَفِيُّ أَوِ الْحَدِيْثُ سِرًّا فِي اْلأُذُنِ

:

الْوَسْوَاسِ

Yaitu setan yang selalu bersembunyi dan pergi kembali ketika dzikir diucapkan

:

اَلشَّيْطَانُ الَّذِيْ يَخْنُسُ (أَيْ يَخْتَفِي وَيَتَأَخَّرُ وَيَرْجِعُ) عِنْدَ ذِكْرِ اللهِ، وَالْخَنَّاسُ كَثِيْرُ اْلاِخْتِفَاءِ

:

الْخَنَّاسِ

Membisikkan dalam hati

:

يُحْدِثُ فِي النَّفْسِ

:

يُوَسْوِسُ

Yaitu jin dan juga setan (asli)

:

هُمُ الْجِنُّ وَمِنْهُمُ الشَّيَاطِيْنُ

:

الْجِنَّةِ

 

?   Keutamaan Surat an-Nās:

Di antaranya:

·     قَالَ الْنَّبِيُّ: (( أَلَمْ تَرَ آيَاتٍ أُنْزِلَتِ اللَّيْلَةَ لَمْ يُرَ مِثْلُهُنَّ قَطٌّ، قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، وَقُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْنَّاسِ ))

Rasululloh bersabda:

Sudah tahukah engkau tentang beberapa ayat yang tadi malam baru saja diturunkan, dan ternyata tidak ada ayat lain yang se-misal dengannya, yaitu Surat al-Falaq dan an-Nās.” (HR. Muslim)

·     عَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهَا- أَنَّ الْنَّبِيَّ  ( كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيْهِمَا فَقَرَأَ فِيْهِمَا قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، وَقُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، وَقُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْنَّاسِ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ، يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ )

Dari ‘Aisyah –rhadiyallohu ‘anhā– bahwasanya Nabi  bila beranjak tidur ke pembaringan, setiap malam beliau menghimpun kedua telapak tangannya, kemudian meniupkannya ke dalam tangannya, dan beliau membaca Surat al-Ikhlāsh, al-Falaq dan an-Nās. Kemudian beliau mengusap dengan kedua tangannya anggota tubuh yang dapat dijangkau oleh usapannya tersebut, beliau mulai mengusap dari kepala, wajah dan bagian depannya. Beliau melakukan hal tersebut sebanyak 3 kali. (HR. al-Bukhāriy)

·     عَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهَا- أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ  ( كَانَ إِذَا اشْتَكَى يَقْرَأُ عَلَى نَفْسِهُ بِالْمُعَوِّذَاتِ وَيَنْفُثُ، فَلَمَّا اشْتَدَّ وَجْعُهُ كُنْتُ أَقْرَأُ عَلَيْهِ وَأَمْسَحُ بِيَدِهِ رَجَاءَ بَرَكَتِهَا )

Dari ‘Aisyah –rhadiyallohu ‘anhā– bahwasanya Rasululloh  bila merasakan sakit, maka beliau membaca bagi dirinya dengan al-Mu’awwidzāt, kemudian meniupkannya ke dalam tangannya. Tatkala sakit beliau bertambah parah, maka aku yang memba-cakan untuknya dan mengusap dengan tangannya agar aku mendapat berkahnya. (HR. al-Bukhāriy)

?   Tafsir Ayat (قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ).

·       Yang dimaksud Rabb an-Nās adalah:

( مَالِكُهُمْ، وَمُصْلِحُ أُمُوْرِهِمْ، وَمُرَبِّيْهِمْ، وَالْمُتَكَفِّلُ بِهِمْ، وَرَاعِي شُؤُوْنِهِمْ )

Dzat Yang Maha menguasa atau memiliki mereka (manusia), Maha memperbaharui berbagai urusan mereka, Maha mentar-biyyah mereka, Maha menjamin (kebutuhan) mereka dan Yang Maha memelihara berbagai keadaan mereka.”

·       Alloh adalah Rabb an-Nās (Tuhan manusia) dan juga Rabb (Tuhan) selainnya.

Karena Dia  adalah Rabb manusia, malaikat, jin, langit, bumi, matahari, bulan dan Rabb segala sesuatu. Dalam surat ini, dikhususkan sebagai Rabb manusia, karena kebutuhan dan penjelasan menuntut yang demikian.

?   Tafsir Ayat (مَلِكِ النَّاسِ).

·       Yang dimaksud Malik an-Nās adalah:

( مَالَكُهُمْ، وَمَالِكُ أَمْرِهِمْ، وَالْمُتَصَرِّفُ وَحْدَهُ فِيْهِمْ )

Dzat Yang Maha menguasa atau memiliki mereka (manusia), Maha menguasai berbagai urusan mereka dan Yang Maha berdaya upaya dalam setiap aktifitas mereka.”

?   Tafsir Ayat (إِلَهِ النَّاسِ).

·       Yang dimaksud Ilāh an-Nās adalah:

( مَأُلُوْهُهُمْ وَمَعْبُوْدُهَمْ )

“Dzat yang diibadahi dan disembah oleh mereka (manusia.”

·       Maka al-Ma’būd yang haqq (benar) adalah Dzat yang diibadahi (dicondongi) oleh hati (umat manusia), serta yang dicintai dan diagungkan olehnya (hati tersebut), dan dia adalah Alloh I.

? Tafsir Ayat مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ) (.

·       al-Waswās adalah mashdar (kata bentukan) yang menunjukkan makna ism al-fā’il (pelaku perbuatan) yang berarti al-muwaswis, maksudnya yang memberikan waswas.

·       Yang dimaksud al-waswasah (waswas) adalah:

( مَا يُلْقَى فِيْ الْقَلْبِ مِنَ الأَفْكَارِ وَاْلأَوْهَامِ وَالتَّخَيُّلاَتِ الَّتِيْ لاَ حَقِيْقَةَ لَهَا )

“Apa yang terlintas dalam hati berupa fikiran, prasangka atau khayalan, yang tidak ada hakekat (kebenaran)nya.”

·       Yang dimaksud al-khannās adalah:

( اَلَّذِيْ يَخْنُسُ وَيَنْهَزِمُ وَيُوَلِّي وَيُدْبِرُ عِنْدَ ذِكْرِ اللهِ، وَهُوَ الشَّيْطَانُ )

Setan yang gemar bersembunyi, lari tunggang langgang, pergi dan kabur ketika seseorang berdzikir kepada Alloh.”

Oleh karena itu, jika adzan berkumandang, maka setan akan lari terbirit-birit hingga tidak lagi terdengar adzan tersebut. Bila adzan selesai, maka setan akan kembali datang (untuk meng-goda). Dan akan kembali lari jika mendengar iqāmah. Jika iqā-mah selesai, ia kembali lagi untuk mengganggu orang yang se-dang shalat seraya berkata: “Ingatlah ini, ingatlah itu!”. Orang yang shalat akan terus diganggu sampai ia tidak mengetahui lagi berapa rakaat yang telah dikerjakan. (HR. al-Bukhariy dan Muslim)

Dalam sebuah atsar diungkapkan:

( إَذَا تَغَوَّلَتِ الْغِيْلاَنِ فَبَادِرُوْا بِاْلأَذَانِ )

Jika setan datang menampakkan diri, maka segeralah kuman-dangkan adzan.” (HR. Ahmad)

? Tafsir Ayat(الَّذِي يُوَسْوِسُ فيِ صُدُورِ النَّاسِ) .

·       Rasululloh  bersabda:

(( إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِيْ مِنْ اِبْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ ))

“Sesungguhnya setan berjalan dalam tubuh manusia melalui aliran darah.”

? Tafsir Ayat(مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ) .

·       Disebutkannya setan dari kalangan manusia adalah karena:

1.   Tipu daya dan perkataan-perkataan kotor mereka dapat me-resap ke dalam hati (menggentarkan), dan

2.   (Tipu daya dan perkataan kotor mereka tersebut) berperan aktif memotivasi seseorang untuk mengerjakan kejelekan atau kejahatan.

Maka tipu daya dan perkataan kotor setan manusia serupa dengan waswas yang dihembuskan oleh setan jin.

·       Diriwayatkan bahwa Abu Dzarr  berkata kepada seseorang:

“Sudahkan engkau memohon perlindungan kepada Alloh dari gangguan setan manusia?”

Orang tersebut menjawab:

“Apakah ada setan dari kalangan manusia?”

Maka dijawab:

“Ya ada, karena Alloh  berfirman:

{ وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ اْلإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا.... }

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, seba-gian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perka-taan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)….” [QS. al-An’am (6): 112].”

? Faedah Surat an-Nās:

1.   Wajibnya al-isti’ādzah (memohon perlindungan) kepada Alloh dari godaan setan, baik dari bangsa jin maupun dari kalangan umat manusia.

2.   Taqrīr (penetapan) rubūbiyyah dan ulūhiyyah Alloh.

3.   Seorang muslim senantiasa beristi’ānah (memohon pertolongan) kepada Alloh hingga dihilangkan beragam kejelekan yang ditimpakan oleh setan dari bangsa jin dan dari kalangan umat manusia.

4.   Seseorang atau orang-orang yang menyeru dan mendakwahkan kepada asy-syarr (kejelekan) dan al-fasād (kerusakan), bahkan gemar memotivasi perbuatan tersebut, maka dia adalah setan.

5.   Dzikir kepada Alloh I adalah senjata ampuh untuk mengusir setan, khususnya waswasnya.

وَاللهُ أَعْلَمُ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْكِرَامِ

 

Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template