Senin, 02 Februari 2009

Tsabat; Anugerah Allah Kepada Orang Mukmin


Allah swt berfirman:

“Allah meneguhkan (menganugerahkan tsabāt) kepada orang-orang yang beriman dengan qawl tsābit (ucapan yang teguh) dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki” [QS. Ibrāhīm (14): 27]

Saudaraku kaum muslimin!
Menurut para pakar bahasa, makna tsabāt berkisar di antara: “keteguhan (اَْلإِسِْتقْرَارُ) dan kekokohan (اَلرُّسُوْخُ), lawan dari kata kegoncangan (اَلتَّزَلْزُلُ) dan kekacauan (َاْلإِضْطِرَابُ)”. 
Sedangkan yang dimaksud al-qawl ats-tsābit dalam ayat di atas menurut para ulama tafsir adalah:
( كَلِمَةُ التَّوْحِيْدِ، وَهِيَ قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ )
“Kalimat tauhid, yaitu ucapan La Ilaha Illallah” (Ma`ālim at-Tanzīl, al-Baghawiy: 2/558)
Dalam ayat di atas, Allah swt ber-janji untuk meneguhkan (memberikan tsabāt) kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, agar teguh di atas keimanan-nya (kepada Allah, Rasul-Nya Muhammad serta kalimat tauhid yaitu La Ilaha Illallah dan amal shalih) saat dunia, hingga me-reka mati di atasnya. Demikian pula Allah swt telah mengokohkan orang-orang yang beriman di dalam kubur dengan syahadat La Ilaha Illallah wa Anna Muhammadan Rasulullah, ketika mereka ditanya di dalamnya. (Lihat: Aysar at-Tafāsīr li Kālam al-`Aliy al-Kabīr, Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy: 616) 
Rasul yang mulia, Muhammad saw adalah sosok utama yang dianugerah-kan tsabāt oleh Allah swt. Saat ujian besar menimpanya, ketika kaum Qu-raisy mulai menentang dan memojok-kannya, tidak sedikitpun beliau mun-dur dari da`wahnya. 
Pada suatu hari, kaum Quraisy ber-kumpul untuk berunding mencari so-lusi, salah seorang di antara mereka berkata: 
 اُنْظُرُوْا أَعْلَمَكُمْ بِالسِّحْرِ وَالْكَهَانَةِ وَالشِّعْرِ، فَلْيَأْتِ هَذَا الرَّجُلِ الَّذِى قَدْ فَرَّقَ جَمَاعَتَنَا، وَشَتَّتَ أَمْرَنَا، وَعَابَ دِيْنَنَا، فَلْيُكَلَّمْهُ وَلْنَنْظُرْ مَاذَا يَرُدُّ عَلَيْهِ؟ 
“Carilah siapa di antara kalian yang paling mengerti sihir, tenung dan sya`ir? Hendaklah dia temui seorang laki-laki yang telah memporak-porandakan persatuan kita, mengacak-acak urusan kita dan men-caci maki tradisi kita! bicaralah dengan-nya dan lihat apa yang akan dikatakannya” 
Kaum Quraisy menjawab:
( مَا نَعْلَمَ أَحَدًا غَيْرَعُتْبَةَ بْنِ رَبِيْعَةَ )
“Kami tidak tahu orang yang lebih mengerti tentang hal itu selain `Utbah bin Rabi`ah” 
Lalu, `Utbah bin Rabi`ahpun men-datangi Rasulullah saw dan menge-mukakan beberapa pertanyaan:
( يَا مُحَمَّدُ، أَنْتَ خَيْرُ أَمْ عَبْدُ اللهِ؟ )
“Wahai Muhammad, engkau ataukah Abdullah (ayahnmu) yang lebih baik?” 
Rasulullah saw diam, lalu bertanya: 
( أَنْتَ خَيْرٌ أَمْ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ؟ )
“Engkau ataukah Abdul Muththalib (kakekmu) yang lebih baik?”
Diapun diam, kemudian melanjut-kan:
 فَإِنْ كُنْتَ تَزْعُمُ أَنَّ هَؤُلاَءِ خَيْرٌ مِنْكَ، فَقَدْ عَبْدُوْا الآلِهَةَ الَّتِيْ عَبْتَ، وَإِنْ كُنْتَ تَزْعُمُ أَنَّكَ خَيْرٌ مِنْهُمْ فَتَكَلَّمْ حَتَّى نَسْمَعْ قَوْلَكَ، إِنَّا وَاللهِ مَا رَأَيْنَا سَخْلَةً قَطّ أَشْأَمَ عَلَى قَوْمِكَ مِنْكَ، فَرَّقْتَ جَمَاعَتَنَا، وَشَتََّتََّ أَمْرَنَا، وَعِبْتَ دِيْنَنَا، وَفَضَحْتَنَا فِيْ الْعَرَبِ، حَتَّى لَقَدْ طَارَ فِيْهِمْ أَنَّ فِيْ قُرَيْشٍ سَاحِرًا، وَأَنَّ فِيْ قُرَيْشٍ كَاهِنًا! وَاللهِ إِنْ كَانَ إِنَّمَا بِكَ الْحَاجَةُ جَمَعْنَا لَكَ حَتَّى تَكُوْنَ أَغْنَى قُرَيْشٍ رَجُلاً، وَإِنْ كَانَ إِنَّمَا بِكَ الْبَاءَةُ فَاخْتَرْ أَيَّ نِسَاءِ قُرَيُشٍ [شِئْتَ] فَلْنُزَوِّجْكَ عَشْرًا 
“Apabila engkau mengaku bahwa me-reka lebih baik darimu, mereka telah me-nyembah tuhan-tuhan yang engkau caci maki. Jika engkau mengaku lebih baik dari mereka, maka bicaralah sehingga kami bisa mendengar apa yang engkau kemukakan. Kami tidak melihat satu orang generasi di kaummu yang lebih buruk daripada kamu. Kamu memporak-porandakan persatuan kami, mengacak-acak urusan kami, men-caci maki tradisi kami dan merendahkan kami di kalangan bangsa Arab. Sampai-sampai tersebar tuduhan di kalangan me-reka bahwa di kalangan suku Quraisy te-lah muncul tukang sihir, bahkan tukang tenung. Demi Tuhan, seandainya engkau orang yang tidak punya, kami akan me-ngumpulkan harta untukmu, sampai eng-kau menjadi orang yang paling terkaya di kalangan Quraisy. Seandainya engkau sudah siap kawin, kamu boleh memilih wanita Quraisy mana saja yang kamu inginkan, kami akan kawinkan kamu de-ngan 10 wanita”
Setelah itu Rasulullah saw menga-takan: 
( أَفَرَغْتَ؟ )
“Apakah engkau sudah selesai?” 
`Utbah menjawab: “Sudah”. Kemu-dian Rasulullah saw membaca ayat al-Qur`an:
“Hā Mīm. Diturunkan dari (Rabb) Yang Maha Pemurah lagi Maha Pe-nyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi ke-banyakan mereka berpaling (daripada-nya); maka mereka tidak (mau) men-dengarkan. Mereka berkata: “Hati kami berada dalam tutupan (yang menu-tupi) apa yang kamu seru kami kepa-danya dan di telinga kami ada sum-batan dan di antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)”. Katakanlah:”Bahwasanya aku hanya-lah seorang manusia seperti kalian, di-wahyukan kepadaku bahwasanya Ilah kalian adalah Ilah Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun ke-pada-Nya. Dan kecelakaan yang besar-lah bagi orang-orang yang memperse-kutukan-Nya, yaitu orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang ber-iman dan mengerjakan amal yang sha-leh mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya”. Katakanlah: “Sesung-guhnya patutkah kalian kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kalian adakan sekutu-sekutu bagi-Nya (Yang bersifat) demikian itulah Rabb semesta alam”. Dan Dia mencip-takan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya.Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuninya) da-lam empat masa.(Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang ber-tanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya me-nurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati” Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya.Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami me-meliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Jika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu de-ngan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Ad dan kaum Tsamud” [QS. Fushshilat (41): 1-13] (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 4/90-91) 

Ketegaran, kekokohan dan kete-guhan Nabi pilihan telah dianugerah-kan Allah swt sebagai teladan bagi ummat Islam. Tak ada apapun yang dapat menggoyahkan beliau untuk memperjuangan agama Islam yang benar, walaupun seluruh dunia akan dihibahkan kepadanya.
Ketegaran inipun dianugerahkan Allah swt kepada shahabat yang mu-lia, ash-Shiddiq rda, tokoh kebenaran. 
al-Bukhariy meriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa dia berkata:
“Kedua orang tuaku sudah memeluk Islam sebelum aku akil baligh. Setiap hari pada pagi dan petang Rasulullah menda-tangi rumah kami. Ketika penderitaan orang-orang muslim dirasa amat berat, Abu Bakar hijrah ke Habasyah. Ketika tiba di Barkul Ghamad, dia bertemu de-ngan Ibnu ad-Daghannah, seorang pe-mimpin Qarah.
“Hendak pergi ke mana engkau?”, ta-nya Ibnu ad-Daghannah.
“Kaumku telah mengusirku dan aku ingin bertasbih dan menyembah Rabb-ku di muka bumi ini”, jawab Abu Bakar rda.
“Orang seperti dirimu ini tidak layak diusir dan tidak layak pula mengusir, ka-rena engkau suka memberi orang yang ti-dak punya, menyambung tali persauda-raan, menafkahi orang-orang yang tidak mampu, menjamu tamu dan membantu orang yang malang. Aku memberikan ja-minan perlindungan bagimu. Maka pu-langlah dan sembahlah Rabb-mu di nege-rimu”
Maka Abu Bakar rda kembali, di sertai Ibnu ad-Daghannah. Setiba di Makkah, Ibnu ad-Daghannah berkeli-ling menemui para pemuka Quraisy sore itu, dengan berkata kepada mereka: 
“Orang semacam Abu Bakar tidak la-yak diusir dan mengusir. Apakah kalian mengusir seseorang yang suka memberi orang yang tidak punya, menyambung tali persaudaraan, menafkahi orang-orang yang tidak mampu, menjamu tamu dan mem-bantu orang yang malang?”
Orang-orang Quraisy tidak berani melanggar perlindungan yang diberi-kan Ibnud-Daghannah. Pada akhirnya mereka berkata: 
“Kalau begitu suruhlah Abu Bakar agar menyembah Rabb-nya di dalam rumah, shalat dan membaca apa pun yang dikehen-dakinya di dalamnya, janganlah dia meng-ganggu kami dengan semua itu dan tidak pula menampakkannya, karena kami meng-khawatirkan para wanita dan anak-anak kami yang terpedaya olehnya”
Maka Ibnu ad-Daghannah menga-takan seperti yang diminta oleh orang-orang Quraisy kepada Abu Bakar rda, dan Abu Bakar pun menyetujui per-mintaan ini hingga beberapa lama. Setelah itu dia membangun tempat khusus untuk shalat di serambi ru-mahnya. Di tempat inilah Abu Bakar mendirikan shalat dan membaca al-Quran. Sementara para wanita dan anak-anak orang Quraisy berkerumun di tempat itu dan mereka pun merasa kagum terhadap perbuatan Abu Ba-kar rda. Bahkan mereka juga melihat apa yang dilakukan Abu Bakar rda. Sementara Abu Bakar rda sendiri ada-lah orang yang mudah menangis.
Dia tidak mampu menahan air ma-tanya untuk keluar setiap kali mem-baca al-Quran. Tentu saja hal ini mem-buat risau para pemuka Quraisy. Me-reka mengirim utusan kepada Ibnu ad-Daghannah untuk mengatakan ke-padanya: 
“Kami melindungi Abu Bakar karena perlindunganmu terhadapnya, tetapi de-ngan syarat, dia harus menyembah Rabb-nya di dalam rumahnya. Rupanya dia te-lah melanggar batas perjanjian itu, karena dia membangun tempat shalat di serambi rumahnya, menampakkan shalat dan me-ngeraskan bacaannya. Tentu saja kami khawatir dia akan memperdayai wanita dan anak-anak kami. Kalau dia menghen-daki untuk membatasi ibadah di rumah-nya sendiri, maka bolehlah dia melakukan-nya. Namun jika dia lebih suka menam-pakkan ibadahnya, maka mintalah agar dia mengembalikan perlindunganmu, karena kami tidak suka melanggar perjanjian de-nganmu dan kami tidak bisa menerima tin-dakan Abu Bakar yang dilakukan secara terang-terangan”
‘Aisyah menuturkan, “ Lalu Ibnu ad-Daghannah menemui Abu Bakar dan berkata kepadanya:
“Engkau mempunyai dua pilihan, mem-batasi ibadahmu atau engkau mengemba-likan perlindunganku kepadaku, karena aku tidak ingin mendengar orang-orang Arab berkata bahwa aku melanggar hak seseorang yang sudah kulindungi”
Abu Bakar rda berkata:
“Kalau begitu kukembalikan perlin-dunganmu kepadamu lagi dan aku cukup puas dengan perlindungan Allah” (HR. al-Bukhariy: 3905)
Semoga Allah swt menganugerah-kan tsabāt, ketegaran, keteguhan dan kekokohan kepada kita semua dalam memperjuangkan Islam, tauhid, sunnah dan kebenaran. Amin.


0 komentar:

Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template